Di suatu waktu shubuh, saya harus segera berangkat ke kantor yang berjarak kurang lebih 42 kilometer dari rumah. Ada tiga pilihan yang sudah saya persiapkan dari tadi malam, yaitu berangkat dengan mobil pribadi, naik angkot, atau ikut teman dengan sepeda motornya. Pilihannya jatuh pada ikut teman dengan sepeda motornya, selain karena sudah janjian juga karena saya harus mengambil sepeda motor saya yang dipinjam teman. Ternyata adik-adik ipar saya sedang tidak berada di rumah, otomatis saya harus pergi naik kendaraan angkutan kota.
Alhamdulillaah, begitu keluar dari gang angkot sudah menanti. Dalam angkot hanya ada seorang ibu duduk dibangku sebelah kiri yang hendak pergi ke pasar. Saya duduk tepat dibelakang supir angkot. Saya sudah lupa kenapa saya selama ini tidak mau naik angkot. Dalam perjalanan, naiklah seorang lelaki yang terlihat kedinginan dengan sebatang rokok menyala ditangannya. Saya langsung tersadar, inilah hal pertama yang membuat saya enggan naik angkot. Kebiasaan bodoh para penikmat racun rokok yang tidak beradab menikmati rokoknya di angkot tanpa peduli suasana. Saya menutup hidung dan mulut saya dengan masker yang biasa saya gunakan ketika mengendarai sepeda motor. Lelaki perokok itu menikmati rokoknya tanpa perasaan bersalah. Alhamdulillaah sampai juga di tempat tujuan, terminal bayangan angkot menuju ibu kota provinsi.
Di terminal bayangan sudah ada angkot yang hampir penuh, yang sebagian besar pegawai pabrik, mereka adalah wanita. Saya baru sadar, hal kedua inilah yang membuat saya tidak mau naik angkot, saya harus berhimpitan dengan wanita-wanita yang bukan mahrom saya. Waktu perjalanan yang agak lumayan lama kurang lebih 15 menit, membuat saya tersiksa, berbagai macam perasaan dan yang paling besar adalah perasaan berdosa. Akhirnya teman saya menelepon meminta maaf karena terlambat yang diakibatkan oleh ban belakang sepeda motornya kempes. Tadinya mau lanjut dengan angkot yang lain sampai jalan dekat kantor, namun saya urungkan niat itu, karena khawatir kejadian seperti tadi terulang kembali. Belum lagi kalau sudah sampai kota, kadang para pengamen suka memaki penumpang yang tidak mau memberi uang recehannya.
Jadi, mohon maaf kepada saudara-saudaraku supir angkot, saya bukan anti angkot karena kalian yang mengemudikannya, atau karena mobil kalian yang kurang nyaman tapi berikut ini alasannya :
- Kadang karena mengejar setoran, angkot saling salip yang membuat para penumpang mual.
- Perasaan tidak nyaman karena perangai supir yang terkesan judes akibat kurang penumpang.
- Buat saya dengan tanggungan satu isteri dan tiga orang anak tidak bisa bertanggung jawab penuh terhadap kenyamanan mereka di dalam angkot.
- Kadang ada penumpang yang merokok di dalam angkot dan siapapun tidak bisa melarangnya, termasuk supir.
- Bagi saya sebagai laki-laki normal, jika berhimpitan dengan perempuan lain diangkot suka merasa tidak nyaman.
- Ancaman ketidakenakan akibat ulah pengamen yang kadang memaksa dan suka memaki.
Itu saja….
Semoga angkot tetap dipertahankan dan ditingkatkan kualitas pelayanannya.

0 comments:
Post a Comment